Saturday, December 24, 2005

Wahdatul Wujud vs Pantheisme

Sekdar sharing hasil iseng iseng nggoogle dengan keywords “Wahdatul
Wujud”, saya baru tahu bahwa Wahdatul Wujud itu berbeda dengan
pantheisme. Ada 2 website yang cukup jelas memberi gambaran tentang
wahdatul wujud yang benar :

http://www.masud.co.uk/ISLAM/misc/nabulsi.htm
http://www.sufinews.com/print.php?id=1078224422&archive=

Mungkin akar pertempuran intelektual antara Ibnu Taimiyah dan Ibnu
Arabi adalah kesalahpahaman Ibnu Taimiyah bahwa wahdatul wujud nya
Ibnu Arabi itu sama dengan pantheisme seperti yang dianut Syaikh Siti
Jenar. Tapi setelah membaca keterangan dari website tersebut, saya
jadi tahu kalau wahdatul wujud itu bukan pantheisme, bahkan menurut
saya ini adalah tafsir yang sangat mengena terhadap QS Al Ikhlas.

Dalam QS Al Ikhlas Allah SWT berfirman :

1. Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Satu”
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu
3. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan
4. Dan tidak ada sesuatu apapun yang setara dengan Dia

Konsep wahdatul wujud menyatakan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang
mempunyai wujud yang hakiki/mutlak kecuali Allah. Wujud Mutlak adalah
wujud yang keberadaannya independen (tidak bergantung pada apapun),
tidak berawal, tidak membutuhkan wujud lain untuk membuat-Nya berawal
(karena Dia memang tidak berawal). Adanya Wujud Mutlak ini ialah
KENISCAYAAN bagi keberadaan wujud wujud lain YANG BERAWAL. Alam
semesta dan segala sesuatu selain Allah adalah wujud yang tidak
hakiki, karena keberadaannya tergantung kepada Wujud Mutlak. Oleh
para sufi segala wujud selain Allah itu disebut wujud al mukmin.
Berbeda dengan Wujud Mutlak, wujud al mukmin ini adalah wujud YANG
BERAWAL, artinya baru ada pada waktu awal tertentu. Misalnya alam
semesta yang baru ada pada saat Big Bang, yang oleh para kosmolog
diperkirakan terjadi 10 milyar tahun yang lalu. Oleh karena itu alam
semesta ialah wujud al mukmin, karena keberadaannya diwujudkan
(maujud) oleh Allah.

Menurut syaikh Syamsuddin Sumartani, bagi seorang salik yang sudah
mencapai tingkat penghabisan (al muntaha), maka kalimat tauhid “laa
ilaha ilallah” dipahami sebagai “tidak ada wujud mutlak kecuali
Allah”. Dialah Allah satu satunya Wujud Mutlak, artinya mustahil ada
wujud lain yang mempunyai entitas, sifat ataupun perbuatan yang
sama/setara dengan Wujud Mutlak. Allah tempat bergantung segala
sesuatu, tentu saja, karena segala sesuatu selain Allah, apakah itu
alam semesta, syurga, neraka, manusia, jin, malaikat, semuanya ada
karena diwujudkan oleh Allah. Tidak ada sesuatu apapun yang
sekufu/setara dengan-Nya, tentu saja, karena bagaimana mungkin
sesuatu yang keberadaannya saja bergantung kepada Allah mau disebut
setara dengan Allah yang keberadaan-Nya tidak bergantung pada
apapun ? Semua makhluk Allah mempunyai tingkat wujud yang lebih
rendah daripada Allah. Kalau dibuat hierarki wujud, maka wujud Allah
menempati posisi paling tinggi yang tidak ada yang lebih tinggi lagi
dari Wujud Allah, sedangkan semua wujud makhluk Allah berada lebih
rendah daripada wujud Allah.

Jelas ada perbedaan prinsipil antara wahdatul wujud dengan
pantheisme. Pantheisme menganggap bahwa wujud Tuhan itu BERSATU
dengan wujud makhluk, sedangkan wahdatul wujud menganggap bahwa wujud
Tuhan itu TERPISAH dari wujud makhluk. Jadi bagi penganut pantheisme,
wujud Tuhan itu nggak ada, karena Tuhan adalah alam, dan alam adalah
Tuhan. Jelas dari sisi logika maupun dalil kepercayaan pantheisme ini
adalah sesat. Menyamakan wujud Tuhan dengan wujud makhluk sama saja
menyetarakan Tuhan dengan makhluk, yang mana ini bertentangan dengan
QS Al Ikhlas : 4. Menyamakan wujud Tuhan dengan wujud makhluk juga
bertentangan dengan firman Allah :”laisa kamislihi syai’un”, tidak
ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nya (saya lupa ini surat apa ayat
berapa, tolong bagi rekan yang tahu, ditambahkan).

Secara logika juga mustahil mengatakan Tuhan adalah alam, dan alam
adalah Tuhan. Dalam filsafat (khususnya filsafat Mulla Sadra),
dikenal apa yang disebut transformasi substansial materi. Pada
awalnya materi universe itu adalah entitas tunggal berupa energi
radiasi. Begitu terjadi Big Bang, mulailah terjadi serangkaian
transformasi substansial lewat suatu mekanisme yang dalam fisika
dikenal dengan istilah spontaneous symmetry breaking (SSB). Dari
rangkaian rangkaian transformasi substansial lewat SSB ini, munculah
keanekaragaman kosmos. Transformasi substansial ini ada yang sifatnya
kosmologis, biologis dan psikologis. Transformasi kosmologis
menghasilkan kenekaragaman quark, atom, senyawa, planet, galaksi.
Transformasi biologis menghasilkan keanekaragaman spesies biologis
dari yang bersel satu sampai yang bersel banyak. Transformasi
psikologis menghasilkan keanekaragaman spirit dari makhluk biologis
dimana disini manusia merupakan puncak kesempurnaan spirik makhluk
biologis. Mengatakan Tuhan adalah alam/materi sama saja mengatakan
bahwa penyebab transformasi substansial materi adalah materi itu
sendiri, yang mana ini mustahil. Penyebab terjadinya transformasi
substansial dalam materi PASTI suatu entitas DILUAR materi, suatu
entitas yang BUKAN materi dan TERPISAH dari materi. Jadi jelas secara
logika, Tuhan itu terpisah dari alam, sehingga jelas logika
pantheisme adalah mustahil.

Begitu saja sekedar renungan Jum’at, sekaligus penyegaran kembali
tentang ma’rifatullah (mengenal Allah). Dalam suatu hadist Rosulullah
SAW pernah bersabda : awalluddina ma’rifatullah, bahwa awal dari
agama ialah mengenal Allah.

Wallahua’lam bish shawab.

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Medy (Kawan LamaKu)

Posted by herdi at 13:58:59 | Permalink | Comments (3)

Friday, November 18, 2005

Tuhan dan realitas cybernetics

Berikut adalah tulisan kawan lama ku, Meidy

Bahwa realitas makhluk pada hakikatnya ialah realitas cybernetics.
Salah satu karakter dasar sistem cybernetics ialah : ada INFORMASI
yang sifatnya IMMATERIAL, kemudian informasi ini DI TRANSFORMASI ke
LAYER FISIK yang sifatnya MATERIAL, berupa POLA POLA TERATUR di layer
fisik. Sistem cybernetics ini sudah akrab dalam kehidupan kita sehari
hari. Televisi, radio, internet, telepon, adalah contoh contoh sistem
cybernetics. Dalam sistem ini, informasi dibuat oleh agen cerdas
pembuat informasi.

Bahwa realitas makhluk pada hakikatnya ialah realitas cybernetics.
Salah satu karakter dasar sistem cybernetics ialah : ada INFORMASI
yang sifatnya IMMATERIAL, kemudian informasi ini DI TRANSFORMASI ke
LAYER FISIK yang sifatnya MATERIAL, berupa POLA POLA TERATUR di layer
fisik. Sistem cybernetics ini sudah akrab dalam kehidupan kita sehari
hari. Televisi, radio, internet, telepon, adalah contoh contoh sistem
cybernetics. Dalam sistem ini, informasi dibuat oleh agen cerdas
pembuat informasi. Televisi misalnya. Pada mulanya gagasan tentang
acara televisi adalah berupa ide ide IMMATERIAL dari agen cerdas,
yaitu pembuat acara televisi. Melalui serangkaian proses
transformasi, gagasan immaterial ini kemudian DI MANIFESTASIKAN dalam
hierarki layer layer cybernetics yang berakhir pada layer fisik
berupa POLA POLA TERATUR signal signal audio dan video. Signal signal
yang memanifestasikan informasi inilah yang kemudian dipancarkan oleh
transmitter (pemancar di stasion TV) dan diterima oleh receiver (TV
di rumah rumah).

Itulah yang terjadi di alam semesta. Alam semesta ini pada hakekatnya
ialah MANIFESTASI INFORMASI yang diciptakan oleh agen Maha Cerdas,
yaitu Tuhan. Gagasan Tuhan tentang alam semesta dimanifestasikan
dalam bentuk HIERARKI CYBERNETICS alam semesta, dari skala MIKRO
CYBERNETICS dalam realitas SUB ATOMIK, sampai skala MEGA CYBERNETICS
yaitu UNIVERSE. Bagaimana bentuk manifestasi informasi Tuhan itu ?
Dalam layer ENERGETIK, informasi Tuhan itu dimanifestasikan dalam
pola pola teratur pada HUKUM HUKUM FISIKA DAN KIMIA. Dalam layer
KOMPLEKSITAS CYBERNETICS BIOLOGI, informasi itu dimanifestasikan
dalam pola pola teratur pada kode kode genetik dan algoritma genetic
cascade dalam morfogenesis makhluk hidup yang membentuk jaringan sel
sel, organ organ, sistem organ sistem organ, sampai keseluruhan
organisme sebagai satu system cybernetics terintegrasi. Dalam layer
PSIKOLOGIS-SPIRITUAL yang post biologis, informasi itu
dimanifestasikan dalam pola pola teratur model model psikologis
makhluk hidup. Dalam layer BIOSFERA/EKOSISTEM, informasi itu
dimanifestasikan dalam pola pola teratur model model rantai memakan-
dimakan/rantai konversi energi dalam interaksi antar makhluk hidup
dengan makhluk hidup dan interaksi makhluk hidup dengan
lingkungannya. Dalam layer ANTHROPOS, informasi itu dimanifestasikan
dalam pola pola teratur model model interaksi antar manusia membentuk
peradaban manusia. Dalam layer GAIA, informasi itu termanifestasi
dalam pola pola teratur model model rangkaian konversi energi yang
membentuk keseimbangan alam bumi. Dalam layer UNIVERSE, informasi itu
termanifestasi dalam pola pola teratur jaringan planet planet,
bintang bintang, galaksi galaksi, membentuk satu bangunan mega
cybernetics universe. Begitulah seterusnya, dalam tiap tiap jenjang
realitas makhluk, Tuhan menurunkan informasi informasi yang spesifik
sesuai karakteristik tiap layer cybernetics makhluk.

Inilah paradigma yang sebenar benarnya dalam memandang realitas,
sebagai anti tesa terhadap paradigma materialisme-reduksionis-
atheistik yang memandang bahwa realitas cybernetics makhluk itu hanya
sekedar hasil rangkaian kebetulan demi kebetulan dari interaksi
aksidental materi. Paradigma absurd inilah yang mendominasi sains
saat ini. Paradigma absurd inilah yang menghantarkan manusia pada
nihilisme, menghantarkan manusia dalam samudra kegelapan kehidupan
yang tanpa arti, sesuai karakter dasar materi yang gelap.
Na’udzubillah, tsumma na’udzubillah min dzalik.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita dari racun materialisme-
atheistik, dan senantiasa membimbing kita untuk tetap pada jalan
terang benderang, jalan paradigma cybernetics-theistik, amien.

Wallahua’lam bish shawab.

Posted by herdi at 07:15:37 | Permalink | Comments (1) »