Sunday, February 24, 2008

” N D E S O ”

 Deso (baca ndeso) itulah sebutan untuk orang yang norak, kampungan,

udik, sock culture, Countrified dan sejenisnya. Ketika mengalami atau

merasakan sesuatu yang baru dan sangat mengagumkan, maka ia merasa

takjub dan sangat senang, sehingga ingin terus menikmati dan tidak

ingin lepas, kalau perlu yang lebih dari itu. Kemudian ia menganggap

hanya dia atau hanya segelintir orang yang baru merasakan dan

mengalaminya. Maka ia mulai atraktif, memamerkan dan sekaligus mengajak

orang lain untuk turut merasakan dan menikmatinya, dengan harapan orang

yang diajak juga sama terkagum-kagum sama seperti dia.

Lebih dari itu ia berharap agar orang lain juga mendukung terhadap

langkah-langkah untuk menikmatinya terus-menerus. Hal ini biasa,

seperti saya juga sering mengalami hal demikian, tetapi kita terus

berupaya untuk terus belajar dari sejarah, pengalaman orang lain, serta

belajar bagaimana caranya tidak jadi orang norak, kampungan alias deso.

Semua kampus di Jepang penuh dengan sepeda, tak terkecuali dekan atau

bahkan Rektorpun ada yang naik sepeda datang ke kampus. Sementara si

Pemilik perusahaan Honda tinggal di sebuah apartemen yang sederhana.

Ketika beberapa pengusaha ingin memberi pinjaman kepada pemerintah

Indonesia mereka menjemput pejabat Indonesia di Narita. Dari Tokyo naik

kendaraan umum, sementara yang akan di jemput, pejabat Indonesia naik

mobil dinas Kedutaan yaitu mercy.

Ketika saya di Australia berkesempatan melihat sebuah acara ceremoni

dari jarak yang sangat dekat, dihadiri oleh pejabat setingkat menteri,

saya tertarik mengamati pada mobil yang mereka pakai Merk Holden baru

yang paling murah untuk ukuran Australia. Yang menarik, para

pengawalnya tidak terlihat karena tidak berbeda penampilannya dengan

tamu-tamu, kalau tidak jeli mengamati kita tidak tahu mana pengawalnya.

Di Sidney saya berkenalan dengan seorang pelayan restoran Thailand. Dia

seorang warga Negara Malaysia keturunan cina, sudah selesai S3,

sekarang lagi mengikuti program Post Doc, Dia anak serorang pengusaha

yang kaya raya. Tidak mau menggunakan fasilitas orang tuanya malah jadi

pelayan. Dia juga sebenarnya dapat beasiswa dari perguruan tingginya.

Satu bulan saya di jepang tidak melihat orang pakai hp komunikator,

mungkin kelemahan saya mengamati. Dan setelah saya baca Koran ternyata

konsumen terbesar hp komunikator adalah Indonesia. Sempat berkenalan

juga dengan seorang yang berada di stasiun kereta di Jepang, ternyata

dia anak seorang pejabat tinggi Negara, juga naik kereta. Yang tak

kalah serunya saya juga jadi pengamat berbagai jenis sepatu yang di

pakai masyarakat jepang ternyata tak bermerk, wah ini yang deso siapa

yaa?

Sulit membedakan tingkat ekonomi seseorang baik di jepang atau di

Australia, baik dari penampilannya, bajunya, kendaraannya, atau

rumahnya. Kita baru bisa menebak kekayaan seseorang kalau sudah tahu

pekerjaan dan jabatanya di perusahaan. Jangan-jangan orang jepang

diajak ke Pondok Indah bisa Pingsan melihat rumah segitu gede dan

mewahnya. Rata-rata rumah disana memiliki tinggi plafon yang bisa

dijambak dengan tangan hanya dengan melompat. Sehingga duduknyapun

banyak yang lesehan.

Sampai akhir hayatnya Rasulullah tidak membuat istana Negara dan

Benteng Pertahanan (khandaq hanyalah strategi sesaat, untuk perang

ahzab saja), padahal Rasulullah sudah sangat mengenal kemawahan istana

raja-raja Negara sekelilingnya, karena Beliau punya pengalaman

berdagang. Ternyata Beliau tidak menjadi silau terus ikut-ikutan latah

ingin seperti orang-orang. Lalu dimana aktivitas kenegaraan dilakukan?

Mengingat beliau sebagai kepala Negara. Jawabannya ya di masjid.

Beliau punya banyak jalan yang legal untuk bisa membangun istana. Di

mekkah nikah dengan janda kaya, di madinah jadi kepala Negara, punya

hak prerogative dalam mengatur harta rampasan perang, dan ada jatah

dari Allah untuk dipergunakan sekehendak beliau, belum hadiah dari

raja-raja. Tetapi mengapa beliau sering kelaparan, ganjal perut dengan

batu, puasa sunnah niatnya siang hari, shalat sambil duduk menahan

perih perut dan seterusnya.

Ketika Indonesia sedang terpuruk, Hutang lagi numpuk, rakyat banyak

yang mulai ngamuk, Negara sedang kere, banyak yang antri beras, minyak

tanah, minyak goreng dll. Maka harga diri kita tidak bisa diangkat

dengan medali emas turnamen olah raga, sewa pemain asing, banyak

ceremonial yang gonta-ganti bajuseragam, baju dinas, merek mobil,

proyek mercusuar, dll, dsb, dst

Bangsa ini akan naik harga dirinya kalo utang sudah lunas, kelaparan

tidak ada lagi, tidak ada pengamen dan pengemis, tidak ada lagiwanita

tidak solat (WTS) , angka criminal rendah, korupsi berkurang,

punyaposisi tawar terhadap kekuatan global. Maka orang Deso (alias

norak) tidak mampu mengatasi kerisis karena tidak bisa menjadikan

krisis sebagai paradigma dalam menyusun APBD dan APBN. Nah karenayang

menyusun orang-orang norak maka asumsi dan paradigma yang dipakai

adalahNegara normal atau bahkan mengikut Negara maju. Bayangkan ada

daerah yang menganggarkan Sepak Bola 17 Milyar sementara anggaran

kesranya 100 juta,wiiieh!

Akhirnya penyakit norak ini menjadi wabah yang sangat mengerikan dari

atas sampai bawah:

-Orang bisa antri raskin sambil pegang hp

-Pelajar bisa nunggak SPP sambil merokok

-Orang tua lupa siapkan SPP, karena terpakai untk beli tv dan kulkas

-Orang kampung mabok patungan Orang bule mabuk kelebihan uang

-Lagi mabok muntah keluar kangkung, genjer toge

-Pengemis bisa pake walkman sambil goyang kepala

-Para Pengungsi bisa berjoged dalam tendanya

-Orang mo beli Gelar akademis di ruko-ruko tanpa kuliah

-Ijzah S3 luar negeri bisa di beli sebuah rumah petakan gang sempit di

cibubur

-Kelihatannya orang sibuk ternyata masih intensive keluar masuk Mc

Donald

-Kelihatannnya orang penting, ternyata sangat tahu detail dunia

persepakbolaan. Jadi masih sempat ngurusin kulit bulat diisi angin

-Kelihatan seperti aktivis tapi habis waktu untuk mencetin hp

-62 tahun merdeka, lomba-lombanya masih makan kerupuk saja

-Agar rakyat tidak kelaparan maka para pejabatnya dansa dansi di acara

tembang kenangan.

-Agar kampanye menang harus berani sewa bokong-bokong bahenol ngebor

-Agar masyarakat cerdas maka sajikan lagu goyang dombret dan wakuncar

-Agar bisa disebut terbuka maka harus bisa buka-bukaan

-Agar kelihatan inklusif maka harus bisa menggandeng siapa saja, kalo

perlu jin tomang bisa digandeng

Yang lebih mengerikan adalah supaya kita tidak terlihat kere, maka

harus bisa tampil keren. Makin kiamatlah kalo si kere tidak tahu

dirinya kere. (*)

Tulisan ini dibuat oleh: Abdulllah Muadz (dari milis tetangga)

Posted by herdi at 14:16:23 | Permalink | Comments (3)

Wednesday, February 20, 2008

Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang

sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku

membajak tanah kering kuning, dan punggung

mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai

seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang

mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya

membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci

ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat

adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan

sebuah tongkat bambu di tangannya.

“Siapa yang mencuri uang itu?”

Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk

berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun

mengaku, jadi Beliau mengatakan,

“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan

berkata,

“Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku

bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus

menerus mencambukinya sampai Beliau

kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas

ranjang batu bata kami dan memarahi,

“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang,

hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di

masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai

mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam

pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia

tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai

menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku

dengan tangan kecilnya dan berkata,

“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya

sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak

memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut

masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak

pernah akan lupa tampang adikku ketika ia

melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun.

Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di

SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat

kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima

untuk masuk ke sebuah universitas propinsi.

Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap

rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.

Saya mendengarnya memberengut,

“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu

baik…hasil yang begitu baik…”

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan

menghela nafas,

“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa

membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan

ayah dan berkata,

“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,

telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku

pada wajahnya.

“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat

lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis

di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua

sampai selesai!”

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di

dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan

tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku

yang membengkak, dan berkata,

“Seorang anak laki-laki harus meneruskan

sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah

meninggalkan jurang kemiskinan ini.”

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi

meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh

datang, adikku meninggalkan rumah dengan

beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang

yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping

ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas

bantalku:

“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya

akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat

tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran

sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17

tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun,

dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut

semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku

akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika

teman sekamarku masuk dan memberitahukan,

“Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar

sana!”

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh,

seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan

pasir. Aku menanyakannya,

“Mengapa kamu tidak bilang pada teman

sekamarku kamu adalah adikku?”

Dia menjawab, tersenyum,

“Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan

mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?

Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi

mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku

semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku,

“Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu

adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku

bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut

berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku,

dan terus menjelaskan,

“Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi

saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi.

Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan

menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20.

Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca

jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih

di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari

seperti gadis kecil di depan ibuku.

“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak

waktu untuk membersihkan rumah kita!”

Tetapi katanya, sambil tersenyum,

“Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk

membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat

luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang

kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat

mukanya yang kurus, seratus jarum terasa

menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada

lukanya dan mebalut lukanya.

“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.

“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja

di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada

kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak

menghentikanku bekerja dan…”

Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan

tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir

deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23.

Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota.

Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang

tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi

mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan,

sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu

harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga,

mengatakan,

“Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu

dan ayah di sini.”

Suamiku menjadi direktur pabriknya.

Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan

sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.

Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja

reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk

memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat

sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya.

Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu,

“Mengapa kamu menolak menjadi manajer?

Manajer tidak akan pernah harus melakukan

sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu

sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu

tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia

membela keputusannya.

“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan

saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi

manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan

dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian

keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:

“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”

“Mengapa membicarakan masa lalu?”

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia

berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi

seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara

pernikahannya, pembawa acara perayaan itu

bertanya kepadanya,

“Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab,

“Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah

kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada

dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya

berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan

pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu

dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu

dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan

berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah,

tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang

begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang

sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama

saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan

baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu

memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,

“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima

kasih adalah adikku.”

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini,

di depan kerumunan perayaan ini, air mata

bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Diterjemahkan dari : “I cried for my brother six

times”

Posted by herdi at 13:15:34 | Permalink | Comments (2)

BREAKTHROUGHT VS CONGUEST

Blog Entry BREAKTHROUGHT VS CONGUEST Feb 5, ‘08 3:59 AM
for everyone

Untuk bisa menjadi manusia yang kaya dan sukses, anda harus memiliki spirit of breakthrought, apa itu spirit of breakthrought?.

“Breakthrought” adalah sikap hati dan tindakan yang dapat melebihi batas kemampuan kita, dimana kita dapat menembus batas dan mendobrak keterbatasan yang ada dalam hidup ini.

Sikap ini sangat dibutuhkan sekali oleh orang-orang yang ingin menjadi leader atau pemimpin dimanapun bidang anda. Namun untuk memiliki spirit of breakthrought tidak mudah, harus ada harga yang dibayar atasnya, anda akan dibilang orang gila, orang edan, orang sinting, dan lain-lain. Jika anda tidak siap maka, anda akan menyerah.

Menurut Anthoni Robin, orang orang yang sukses adalah orang-orang yang dapat menembus batas atau melebihi kemampuan atau keterbatasan yang dimilikinya.

Sama seperti yang dibilang oleh guru saya Tung Desem Waringin yang specialisasinya tembus limit atau breakthrought. Dia mengatakan kalau kita ingin kaya dan sukses, kita harus memiliki spirit of breakthrought, spirit ini sangat diperlukan oleh orang-orang yang tidak mau menjadi seperti orang biasa seperti ANDA dan saya. Dengan membaca tulisan ini anda sudah memiliki spirit of beakthrought yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan anda harus menjadi leader dimanapun bidang anda berada.

Tetapi anda harus siap juga secara mental jika diomongin orang karena tindakan dan perbuatan yang anda lakukan berbeda dengan kebanyakkan orang. Tindakan disini harus yang positif dan berguna bagi orang banyak atau minimal berakibat baik terhadap hubungan anda dengan keluarga anda dan pekerjaan anda sekarang.

Spirit of breakthrought dapat menjadikan kita manusia yang MANTAB (manusia tanpa batas) dan sukses. Spirit ini sangat dibutuhkan sekali bagi anda setiap leader baik diperusahaan maupun dibisnis.

Pernahkah anda mendapatkan uang seberapapun besarnya itu jika sudah mencapai batas tertentu biasanya uangnya habis, misalnya anda mendapat uang atau proyek bisnis sebesar Rp. 4.000.000, jika anda sudah mencapai angka tersebut maka uang anda akan habis atau tidak cukup lagi. Orang-orang seperti inilah yang memiliki batas didalam hidupnya, yaitu batas keuangan dia adalah Rp. 4.000.000, jika sudah sampai angka tersebut maka biasanya sudah tidak mampu lagi.

Disinilah spirit of breakthrought diperlukan. Anda tidak boleh nyaman diangka Rp. 4.000.000, anda harus bisa menembus batas keuangan anda dengan memecahkan angka Rp. 4milyar, atau anda minimal harus bisa mendapatkan uang Rp. 10milyar, maka anda dapat dikatakan memiliki spirit of breakthrought.

Jika anda sudah memiliki spirit of breakthrought maka, jangan hanya puas dengan kondisi saat ini. Orang yang memiliki spirit of breakthrought biasanya memiliki kelimpahan akan uang karena uang akan mengejar anda. Jangan hanya puas dengan memiliki uang banyak dan harta yang berlimpah, tetapi anda harus memiliki juga spirit of conguest.

Apa itu spirit of conguest?, “spirit of conguest” adalah spirit yang dapat menaklukan semua yang sudah anda dapatkan dan anda cari didalam hidup ini, jika anda sudah dapat uang yang banyak tetapi tidak memiliki hidup yang harmonis dengan keluarga, ini sia-sia belaka.

Spirit of conguest dapat menaklukan semua yang anda dapatkan dan anda cari selama ini. Spirit of conguest ini sangat besar sekali peranannya dalam kesuksessan hidup anda, sebagai contoh ” dahulu anda hidup miskin dan kekurangan, kemudian anda meminjam uang kepada orang kaya teman anda tetapi malah cacian dan makian yang anda terima dari orang kaya yang menjadi teman anda ini, kemudian anda bertekad untuk kaya dan sukses jauh melebihi orang kaya tersebut dan setelah melalui perjuangan yang sangat panjang dan tetesan air mata, akhirnya 5 tahun kemudian anda menjadi pengusaha sukses dinegeri ini, dan anda memiliki banyak sekali uang dimana-mana, kemudian anda ingat akan seseorang yang dahulu anda pernah minta bantuannya untuk menolong anda, tetapi anda hanya mendapatkan cacian dan makian dari dia. Sudah menjadi hak anda untuk bisa membuat orang kaya yang menjadi teman anda tersebut untuk membalas semua dendam-dendam yang anda dapatkan pada saat itu. Namun jika memiliki spirit of congest atau spirit untuk menaklukan diri, maka anda tidak akan membalas kejahatan yang anda terima pada saat itu, jika anda membalasnya maka saya pastikan anda bukan seorang yang memiliki hati yang bersih dan saya sangat yakin kalau kesuksesan anda tidak ada artinya.kesuksesan semu yang anda dapatkan, anda boleh memiliki harta yang berlimpahan tetapi jauh didalam hati anda ada lubang kosong yang anda temukan, dan anda berfikir dengan uang semuanya dapat anda isi termasuk kekosongan dan kehampaan hidup anda”.

Spirit of conguest bukan memaksudkan anda menaklukan orang lain, tetapi lebih dalam lagi yaitu spirit untuk menaklukan hati anda, jangan sampai harta atau kekayaan yang anda terima atau peroleh semata-mata untuk menunjukan bahwa anda lebih hebat atau lebih sukses dari orang lain.

Seorang penakluk atau congueror bukan mementingkan dirinya sendiri, tetapi harus memikirkan apa yang dapat dia berikan kepada lingkungan sekitar dengan kekayaan dan kesuksesan yang anda dapatkan tidak akan berguna jika anda tidak membuat orang lain lebih sukses dari anda. Maka, satu impian saya untuk membuat bangsa ini, bangsa indoesia yang menjadi kumpulan orang sukses.maka saya sangat yakin sekali kalau bangsa kita Indonesia akan menjadi bangsa yang besar (seperti yang dikemukakan oleh Ono W Purbo pakar telematika), dengan menggunakan hati dan pikirannya. Dan saya sangat yakin sekali bahwa bangsa ini akan menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa lain karena bangsa ini memiliki orang-orang hebat seperti ANDA dan saya.

Anda adalah orang hebat yang dapat membuat perubahan terhadap bangsa ini. Anda adalah asset yang tak ternilai harganya yang dimiliki bangsa ini, jika anda tidak menyadarinya ini adalah kesia-siaan belaka.

Sebagai anak bangsa ini, ANDA harus memiliki spirit of breakthrought and spirit of conguest, karena kedua hal ini sangat berhubungan erat bagi kesuksessan anda dan bagi kesuksessan bangsa ini.

Jangan pernah puas hanya memiliki spirit of breakthrought, karena anda akan menjadi manusia yang sombong dan angkuh jika hanya memiliki spirit of breakthrought saja, tapi milikilah spirit of conguest yaitu spirit untuk bisa menaklukan apa yang sudah ANDA cari dan impikan. Dan saya sangat yakin sekali kesuksessan anda dan kekayaan yang anda terima akan nikmat rasanya seperti memakan pisang bakar dicampur coklat, ditaburi selai strawberry, dilapisi keju yang hangat, serta ditambahi kacang almond dan dibubuhi gula hangat diatasnya, nyam..nyamâ¦nyamâ¦, mau makan rasanya nih, enak sekali campurannya dan komposisinya.

Sama seperti kekayaan dan kesuksessan yang kita dapati dan peroleh, semuanya harus menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara spirit of breakthrought dengan spirit of conguest, kedua hal ini sangat berhubungan erat dan tida bisa berdiri sendiri.

Pertanyaan dari saya, apakah anda sudah memiliki salah satu sikap ini atau anda belum memiliki sama sekali spirit ini?…

Anda adalah jawaban atas semua ini.

Posted by herdi at 13:07:02 | Permalink | No Comments »

Kapolda Jabar : “jangan pernah setori saya !”

Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.


Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”, anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di
lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. “Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan
Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

Berikut petikan wawancara wartawan “PR” Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ‘kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas
saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau
pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya “bersihkan” dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha , mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin
mereka.

Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan
karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

Untuk program “bersih-bersih” itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?

Hahaha…. (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat.
Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja
sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus korupsi?

Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap “bermain” bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi
digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.

Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka
yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.

Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian?

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng , tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara rakyat
macet. Itu juga korupsi.

Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***

Posted by herdi at 13:04:44 | Permalink | Comments (1) »

2 Manusia Super di Jembatan Setiabudi

Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi tuk coba taklukkan ibukota negri ini. Semoga kita selalu diingatkan.
Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari ini :

Siang ini February 6, 2008 , tanpa sengaja ,saya bertemu dua manusia super. Mereka mahluk mahluk kecil , kurus ,kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi , dua sosok kecil berumur kira kira
delapan  tahun  menjajakan  tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang untuk makan siang  mereka menawari saya  tissue diujung jembatan , dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan
ucapan “Terima kasih Oom !”.  Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan Cuma mulai membuka  sedikit senyum seraya  mengangguk kearah mereka.


Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan , menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,
lagi lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok disudut jembatan  tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan
lirikan kearah dalam  kantong itu , duapertiga  terisi  tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama  dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita , senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta.

” Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!”  tukas mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .

” Maaf , nggak ada kembaliannya ..ada uang pas nggak mbak ? ” mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng,  lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

” Oom boleh tukar uang nggak , receh sepuluh ribuan ?” suaranya mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka . sedikit terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian  food
court sebesar empat ribu rupiah .

” Nggak punya , tukas saya !” lalu tak lama siwanita berkata ” ambil saja kembaliannya , dik !” sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap , ia  menyambar uang empat ribuan saya dan menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti ,  lalu ia  mengejar wanita tersebut untuk
memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget , setengah berteriak ia bilang “sudah buat kamu saja , nggak apa..apa ambil saja !”, namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. ” maaf mbak , Cuma ada empat ribu  , nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !” Akhirnya uang itu diterima siwanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka , uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya . mereka menghampiri saya dan berujar ” Om , bisa tunggu ya , saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !”.
” eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !” saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya , “Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar “
” Nggak apa apa , itu buat kalian ” Lanjut saya
” jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga ” anak itu bersikeras
” Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat , secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

” Ini deh om , kalau kelamaan , maaf ..” ia memberi saya delapan  pack tissue
” Buat apa ?” saya terbengong
” Habis teman saya lama sih Om , maaf , tukar pakai tissue aja dulu ” walau dikembalikan ia tetap menolak .

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set , ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya . Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali dengan genggaman uang receh sepuluh ribu , dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat  ribu rupiah.

“Terima kasih Om , !”..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup sayup terdengar percakapan ” Duit mbak tadi gimana ..? ” suara kecil yang lain menyahut ” lu hafal kan orangnya , kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin
…” percakapan itu sayup sayup menghilang  , saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super , kekuatan kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh , mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra , mereka tahu hak mereka dan
hak orang lain , mereka berusaha tak meminta minta  dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO

Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan  keserakahan kita , yang tak pernah ingin sedikitpun berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .

“Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana , kitalah yang memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak”

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan  teman lainnya untuk lebih SUPER.


Forward dari email :hrbetsy@gmail. com

Aryadi N  SM 0304
QHSE Manager  I  BHM Corp I 0817 149369 I Oil and Gas

The light in the eyes has dimmed,
The smile at the corner of the mouth has been extinguished.
But the day isn’t dark,
People go by in the streets, laughing merrily.

Lets make Jakarta better

Posted by herdi at 13:00:57 | Permalink | Comments (2)

AKU BIASA-BIASA SAJA

Tahukah anda, apa yang paling dibanggakan orang tua dari
anak-anaknya? Boleh jadi adalah kecerdasan scholastic, seperti
matematika, bahasa, menggambar (visual), musik (musical), dan
olahraga (kinestetik).

Tetapi, pernahkah kita membanggakan jika anak kita memiliki
kecerdasan moral, kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan
interpersonal?

Rasanya jarang, sebab ketiga kecerdasan yang terakhir hampir pasti
uncountable, tidak bisa dihitung, dan sayang sekalin tidak ada
pontennya (nilainya) di sekolah, karena di sekolah hanya memberikan
penilaian kuantitatif.

Adasebuah cerita tentang seorang anak, sebut saja namanya Fani (6,5
tahun), kelas I SD. Ia memiliki banyak sekali teman. Dan ia pun tidak
bermasalah harus berganti teman duduk di sekolahnya. Ia juga bergaul
dengan siapa saja dilingkungan rumahnya. Adasatu hal yang menarik
saat ia bercerita tentang teman-temannya.

“Bu, Ifa pinter sekali lho, Bu…! Pinter Matematika, Bahasa Indonesia,
Menggambar….pokoknya pinter sekali….!” katanya santai. Vivi juga
pintar sekali menggambar, gambarnya bagus …sekali! Kalau si Yahya
hafalannya banyaaak… sekali!”

Ya memang fani senang sekali membanggakan teman-temannya. Ketika
mendengar celoteh anaknya ibunya tersenyum dan bertanya, ” Kalau
mbak Fani pinter apa?” Ia menjawab dengan cengiran khasnya,”

Hehehe…kalau aku, sih, biasa-biasa saja”.

Jawaban itu mungkin akan sangat biasa bagi anda, tetapi ibunya
tertegun, karena pada dasarnya fani memang demikian. Ia biasa-biasa
saja untuk ukuran prestasi scholastic.

Tapi coba kita dengarkan apa cerita gurunya, bahwa Fani sering
diminta bantuannya untuk membimbing temannya yang sangat lamban
mengerjakan tugas sekolah, mendamaikan temannya yang bertengkar.

Bahkan ketika dua orang adiknya, Farah (4,5 tahun) dan Fadila (2,5
tahun) bertengkar. Fani langsung turun tangan. “Sudah..! sudah, Dek!
sama saudara tidak boleh bertengkar, Hayo tadi siap yang mulai?”
Adiknya saling tunjuk.”Hayo, jujur …1Jujur itu disayang Allah..!
Sekarang salaman ya… saling memaafkan”.

Pun ketika suatu hari ia melihat baju-baju bagus di toko, dengarlah
komentarnya!

“Wah bajunya bagus-bagus ya Bu? Aku sebenarnya pengin, tapi bajuku
dirumah masih bagus-bagus, nanti saja kalau sudah jelek dan Ibu sudah
punya rezeki, aku minta dibelikan …”

Ibunya pun tak kuasa menahan air matanya, subhanallah anak sekecil
itu sudah bisa menunda keinginan, sebagai salah satu ciri kecerdasan
emosional.

Saya sebenarnya ingin berbagi cerita tentang ini kepada anda, karena
betapa banyak dari kita yang mengabaikan kecerdasan-kecerdasan
emosional seperti itu. Padahal kita tahu dalam setiap tes penerimaan pegawai, yang lebih banyak diterima adalah orang yang mempunyai kecerdasan emosional walaupun dari sisi kecerdasan scholastic adalah BIASA-BIASA SAJA.

Kadang kita merasa rendah diri manakal anak kita tidak mencapai
ranking sepuluh besar disekolah. Tetapi herannya, kita tidak rendah
diri manakala anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang egois, mau
menang sendiri, sombong, suka menipu atau tidak biasa bergaul.

Maka ketika Fani mengatakan “AKU BIASA-BIASA SAJA”, maka saat itu
ibunya menjawab “Alhamdulillah, mbak Fani suka menolong
teman-teman, tidak sombong, mau bergaul dengan siapa saja. Itu
adalah kelebihan mbak Fani, diteruskan dan disyukuri ya..?” Ya…
ibunya ingin mensupport dan memberikan reward yang positif bagi
Fani. Karena kita tahu anak-anak kita adalah amanah dan suatu saat
amanah itu akan diambil dan ditanyakan bagaimana kita menjaga
amanah.
Sebagaimana doa kita setiap hari agar anak-anak menjadi penyejuk
mata dan hati.

Sudahkah kita mencoba untuk menggali potensi-potensi kecerdasan
emosional anak-anak kita? Kalu belum mulailah dari diri kita, saat ini
juga.

“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri, akan hidup
sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Tetapi orang yang mau memikirkan orang lain, ia akan
menjadi orang besar dan mati sebagai orang besar”.

Posted by herdi at 04:30:18 | Permalink | No Comments »