Carlos Ghosn, Menyelamatkan Nissan dari Kebangkrutan
Pria keturunan Lebanon, yang duduk sebagai pemimpin tertinggi di dua perusahaan pembuat mobil terkemuka yang berjarak ribuan kilometer, yakni Nissan di Jepang dan Renault di Perancis, ini selalu menjadi perhatian pers internasional.
Keberhasilannya menyelamatkan Nissan dari kebangkrutan pada tahun 1999, dan pribadinya yang menarik, menjadikan dirinya tidak pernah lepas dari incaran pers internasional. Sosoknya kerap kali menghiasi halaman muka majalah terkemuka dunia.
Ia juga dipilih sebagai salah seorang dari “The Top 25 Managers of the Year” oleh majalah BusinessWeek tahun 2001 dan dinobatkan sebagai “Man of the Year 2003″ oleh majalah Fortune edisi Asia. Tahun 2004 Ghosn ditetapkan oleh Automotive Hall of Fame (Amerika Serikat) sebagai “Industry Leader of the Year”.
Dalam jumpa persnya di gedung Nissan di Jalan MT Haryono, Jakarta, 10 Oktober lalu, Presiden dan CEO Nissan Motor Co Ltd Carlos Ghosn membuat para wartawan Indonesia terkesima. Pada saat berdiri di mimbar dan memberikan keterangan persnya, Ghosn tampak penuh karisma. Namun, pada saat acara tanya-jawab tiba, dengan sangat bersahaja ia menghampiri wartawan yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Membangkitkan kembali Nissan bukan tanpa korban. Ghosn menutup sejumlah pabrik, merumahkan banyak pekerja, memutus jaringan suplai yang sudah berlangsung lama, dan menjual aset-aset sampingan yang tidak berkaitan dengan bisnis inti Nissan. Namun, memotong biaya itu hanyalah merupakan langkah pertama dalam membangkitkan kembali Nissan. Jangan heran kalau Ghosn dijuluki “Le Cost Killer”.
Carlos Ghosn dalam bukunya yang berjudul Shift: Inside Nissan’s Historic Revival mendeskripsikan bagaimana ia melakukan sesuatu yang terlihat tidak mungkin dilakukan, yakni mentransformasikan Nissan sekali lagi menjadi sebuah perusahaan global yang tangguh.
Untuk tujuan apa Anda menerbitkan buku ini?
Sewaktu saya kecil saya banyak mendapatkan manfaat dari buku yang dibuat oleh orang-orang terkemuka. Dari cara mereka menjalani hidup dan menyelesaikan persoalan atau tantangan yang mereka hadapi, saya bisa belajar banyak. Itu sebabnya, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial kepada mereka, keberhasilan saya membangkitkan Nissan kembali saya tulis dalam sebuah buku agar orang-orang lain pun dapat belajar dari apa yang telah saya lakukan.
Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2005 itu, Ghosn mendeskripsikan keberhasilannya di Nissan ke dalam tiga faktor. Pertama, Anda dan orang-orang di perusahaan itu harus menyusun visi yang sangat sederhana mengenai ke arah mana perusahaan itu akan dibawa? Apa sasarannya dan di mana kita harus berbagi di semua tingkatan dalam perusahaan itu?
Kedua, Anda harus mempunyai strategi, tentang bagaimana kita menuju ke sasaran itu? Apa saja rencana aksinya, yakinkan bahwa strategi itu dikembangkan di semua tingkatan dalam perusahaan tersebut dan setiap orang mengetahui apa sumbangan yang diharapkan darinya bagi perusahaan?
Ketiga, semua karyawan harus dapat merasakan besarnya komitmen dari pemimpin tertinggi, baik komitmen personal maupun komitmen tim, yakni bahwa kita di sini untuk membangkitkan kembali perusahaan dan jika Anda tidak melakukannya secara benar, kita akan tersingkir dan hancur.
Pada akhirnya, hasil yang dicapai akan menyatukan segala sesuatunya, mereka akan memberikan kepada Anda kredibilitas, mereka akan membuat semua orang merasa aman di perusahaan itu dan ingin bergabung.
Dari semua itu, apa yang terpenting?
Yang terpenting adalah Anda memberikan visi dan strategi, kemudian Anda memberikan rangsangan agar orang-orang termotivasi untuk memberikan komitmennya sehingga sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Menurut Ghosn, kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah pemimpin tidak melibatkan orang-orang dalam perusahaan, pemimpin tidak melakukan kontak dengan mereka. Keadaan itu harus dibalik, pertama-tama Anda harus berhubungan dengan orang-orang di dalam perusahaan.
Anda harus membangun kontak dengan mereka, baik langsung maupun tidak langsung, Anda harus merasakan situasinya, Anda harus mengerti akan harapan-harapan mereka dan menanggapinya dengan memberikan kesadaran bahwa dengan membangkitkan perusahaan, harapan-harapan mereka akan tercapai. Inilah tantangan yang harus dihadapi.
Pria yang berusia 52 tahun itu sangat memegang teguh disiplin. Hal itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya semasa kecil di salah satu institusi Jesuit terpandang, College Notre-Dame, di Beirut, Lebanon. Dalam filosofi pendidikan Jesuit, disiplin dan kompetisi dianggap sebagai hal yang sangat penting.
Ghosn juga dikenal sebagai pekerja keras. Itu membuatnya di Nissan dijuluki sebagai “Tuan 7-11″ karena pada pukul 07.00 pagi ia sudah berada di kantor dan baru kembali ke rumah di atas pukul 11.00 malam. Namun, itu hanya untuk lima hari kerja saja, mengingat hari Sabtu dan Minggu adalah sepenuhnya waktu ia berkumpul bersama keluarganya. Kendati seluruh pendidikannya berlangsung dalam bahasa Perancis, tetapi penguasaan bahasa Inggris Ghosn sangatlah mengesankan.
Kini bahasa utama yang digunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa Inggris, walaupun bahasa Perancis masih merupakan bahasa yang paling akrab dengan dirinya. Pemilihan bahasa Inggris itu dilakukan karena pertimbangan obyektif, harus diakui bahwa ketika seorang China berkumpul bersama dengan seorang Jerman, seorang Perancis, seorang Amerika, dan seorang Jepang, kecil kemungkinan pembicaraan dilakukan dalam bahasa Perancis, bahasa China, atau bahasa lain di luar bahasa Inggris.
Dalam jumpa persnya di gedung Nissan di Jalan MT Haryono, Jakarta, 10 Oktober lalu, Presiden dan CEO Nissan Motor Co Ltd Carlos Ghosn membuat para wartawan Indonesia terkesima. Pada saat berdiri di mimbar dan memberikan keterangan persnya, Ghosn tampak penuh karisma. Namun, pada saat acara tanya-jawab tiba, dengan sangat bersahaja ia menghampiri wartawan yang mengajukan pertanyaan kepadanya.
Membangkitkan kembali Nissan bukan tanpa korban. Ghosn menutup sejumlah pabrik, merumahkan banyak pekerja, memutus jaringan suplai yang sudah berlangsung lama, dan menjual aset-aset sampingan yang tidak berkaitan dengan bisnis inti Nissan. Namun, memotong biaya itu hanyalah merupakan langkah pertama dalam membangkitkan kembali Nissan. Jangan heran kalau Ghosn dijuluki “Le Cost Killer”.
Carlos Ghosn dalam bukunya yang berjudul Shift: Inside Nissan’s Historic Revival mendeskripsikan bagaimana ia melakukan sesuatu yang terlihat tidak mungkin dilakukan, yakni mentransformasikan Nissan sekali lagi menjadi sebuah perusahaan global yang tangguh.
Untuk tujuan apa Anda menerbitkan buku ini?
Sewaktu saya kecil saya banyak mendapatkan manfaat dari buku yang dibuat oleh orang-orang terkemuka. Dari cara mereka menjalani hidup dan menyelesaikan persoalan atau tantangan yang mereka hadapi, saya bisa belajar banyak. Itu sebabnya, sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sosial kepada mereka, keberhasilan saya membangkitkan Nissan kembali saya tulis dalam sebuah buku agar orang-orang lain pun dapat belajar dari apa yang telah saya lakukan.
Dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2005 itu, Ghosn mendeskripsikan keberhasilannya di Nissan ke dalam tiga faktor. Pertama, Anda dan orang-orang di perusahaan itu harus menyusun visi yang sangat sederhana mengenai ke arah mana perusahaan itu akan dibawa? Apa sasarannya dan di mana kita harus berbagi di semua tingkatan dalam perusahaan itu?
Kedua, Anda harus mempunyai strategi, tentang bagaimana kita menuju ke sasaran itu? Apa saja rencana aksinya, yakinkan bahwa strategi itu dikembangkan di semua tingkatan dalam perusahaan tersebut dan setiap orang mengetahui apa sumbangan yang diharapkan darinya bagi perusahaan?
Ketiga, semua karyawan harus dapat merasakan besarnya komitmen dari pemimpin tertinggi, baik komitmen personal maupun komitmen tim, yakni bahwa kita di sini untuk membangkitkan kembali perusahaan dan jika Anda tidak melakukannya secara benar, kita akan tersingkir dan hancur.
Pada akhirnya, hasil yang dicapai akan menyatukan segala sesuatunya, mereka akan memberikan kepada Anda kredibilitas, mereka akan membuat semua orang merasa aman di perusahaan itu dan ingin bergabung.
Dari semua itu, apa yang terpenting?
Yang terpenting adalah Anda memberikan visi dan strategi, kemudian Anda memberikan rangsangan agar orang-orang termotivasi untuk memberikan komitmennya sehingga sasaran yang telah ditetapkan dapat dicapai.
Menurut Ghosn, kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah pemimpin tidak melibatkan orang-orang dalam perusahaan, pemimpin tidak melakukan kontak dengan mereka. Keadaan itu harus dibalik, pertama-tama Anda harus berhubungan dengan orang-orang di dalam perusahaan.
Anda harus membangun kontak dengan mereka, baik langsung maupun tidak langsung, Anda harus merasakan situasinya, Anda harus mengerti akan harapan-harapan mereka dan menanggapinya dengan memberikan kesadaran bahwa dengan membangkitkan perusahaan, harapan-harapan mereka akan tercapai. Inilah tantangan yang harus dihadapi.
Pria yang berusia 52 tahun itu sangat memegang teguh disiplin. Hal itu dilatarbelakangi oleh pendidikannya semasa kecil di salah satu institusi Jesuit terpandang, College Notre-Dame, di Beirut, Lebanon. Dalam filosofi pendidikan Jesuit, disiplin dan kompetisi dianggap sebagai hal yang sangat penting.
Ghosn juga dikenal sebagai pekerja keras. Itu membuatnya di Nissan dijuluki sebagai “Tuan 7-11″ karena pada pukul 07.00 pagi ia sudah berada di kantor dan baru kembali ke rumah di atas pukul 11.00 malam. Namun, itu hanya untuk lima hari kerja saja, mengingat hari Sabtu dan Minggu adalah sepenuhnya waktu ia berkumpul bersama keluarganya. Kendati seluruh pendidikannya berlangsung dalam bahasa Perancis, tetapi penguasaan bahasa Inggris Ghosn sangatlah mengesankan.
Kini bahasa utama yang digunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari adalah bahasa Inggris, walaupun bahasa Perancis masih merupakan bahasa yang paling akrab dengan dirinya. Pemilihan bahasa Inggris itu dilakukan karena pertimbangan obyektif, harus diakui bahwa ketika seorang China berkumpul bersama dengan seorang Jerman, seorang Perancis, seorang Amerika, dan seorang Jepang, kecil kemungkinan pembicaraan dilakukan dalam bahasa Perancis, bahasa China, atau bahasa lain di luar bahasa Inggris.
Posted by
at
14:33:32
You are so totally right (write!)