Monday, February 6, 2006

Cerita Sukses Honda

 SOICHIRO HONDA : “Lihat Kegagalan Saya”
 Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan.
 Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah.
 Namun ia trus bermimpi dan bermimpi…

 Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu
 terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini
 menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki “raja jalanan”.
 Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri “kerajaan” Honda - Soichiro
 Honda -
 diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih
 Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI . Ia bukan siswa
 yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan,
 selalu menjauh dari pandangan guru.
 “Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya
 disekitar mesin, motor dan sepeda,” tutur tokoh ini, yang meninggal pada
 usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo , akibat mengindap
 lever.
 Kecintaannya kepada mesin, mungkin ‘warisan’ dari ayahnya yang membuka
 bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang
 Tengah,
 tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya
 memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di
 tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor
 penggeraknya.
 Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri
 berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin
 menyaksikan pesawat terbang.
 Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun,
 Honda
 berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi,
 benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari
 keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga
 membuatnya rendah diri.
 Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company.
 Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan
 cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang
 bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah
 wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya
 mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu . Tawaran ini tidak
 ditampiknya.
 Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi
 yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil
 pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam
 kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap
 kreatif. Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak
 baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk enggantikan ruji-ruji itu
 dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan
 diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang
 pertama.
 Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat
 usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih?
 Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh
 bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh
 Toyota , karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak
 lentur,
 dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi
 teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar
 dari bengkel.
 Kuliah
 Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian,
 kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal
 Ring
 Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari
 jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang
 hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel,
 mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah
 dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang
 mengikuti
 kuliah.
 “Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan
 dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya,”
 ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan
 maksudnya kuliah bukan mencari ijasah. Melainkan pengetahuan. Penjelasan
 ini
 justru dianggap penghinaan.
 Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota
 memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh
 malangnya,
 niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidak memberikan dana. Ia
 pun
 tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk
 mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibah datang. Setelah perang meletus,
 pabriknya terbakar dua kali.
 Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya.
 Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal
 Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga,
 gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual
 pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota . Setelah itu, Honda mencoba beberapa
 usaha
 lain. Sayang semuanya gagal.
 Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini
 kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat
 menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan
 terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, “sepeda
 motor”
 - cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga.
 Mereka
 berbondong-bondong memesan,
 sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik
 motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda
 berikut mobinya, menjadi “raja” jalanan dunia, termasuk
 .
 Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri
 otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. “Orang
 melihat
 kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99%
 kegagalan
 saya”, tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan,
 yaitu
 mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.
 Kisah Honda ini, adalah contoh bahwa sukses itu bisa diraih seseorang
 dengan
 modal seadanya, tidak pintar di sekolah, ataupun berasal dari keluarga
 miskin.

 = = = = = = = = = = =
 Lima Resep keberhasilan Honda
 1.Selalulah berambisi dan berjiwa muda.
 2.Hargailah teori yang sehat, temukan gagasan baru, khususkan waktu
 memperbaiki produksi.
 3.Senangilah pekerjaan Anda dan usahakan buat kondisi kerja Anda senyaman
 mungkin.
 4.Carilah irama kerja yang lancar dan harmonis.
 5.Selalu ingat pentingnya penelitian dan kerja sama

Posted by herdi in 17:45:27
Comments

7 Responses

  1. muhajir says:

    kalau bisa honda yang model dulu jangan di buang,karena honda yang dulu tahan lama and kalau bisa honda dulu di modifikasikan biar maco gitu lo…

  2. alimi says:

    ke gagalan memang kesuksesan yang tertunda.
    namun dalam mencapai kesuksesan dibutuhkan kesabaran, karena kesabaran merupakan kekuatan. tuk meraih suatu kesuksesan.

  3. Eva Safrina says:

    untuk mewujudkan sesuatu itu memang diperlukan usaha yang gigih.
    tanpa ada usaha dan tekat kita tidak akan berhasil.

  4. Eva Safrina says:

    untuk mendapatkan sesuatu itu sangat diperlukan usaha dan tekat.

  5. hanisah says:

    saya terkesan sekali dengan artikel honda, dimana honda tidak patah semangat atau putus asa dalam menjalani hidup walau sering diterpa kegagalan.

  6. asep ikhwan says:

    Saya sangat terinspirasi sekali dengan artikel HONDA, ini harus diberikan pada siswa agar mereka kelak menjadi generasi pencipta dan tahan uji, bangsa ini sudah sangat kritis dan merindukan lahirnya ” Honda,honda ” muda untuk membawa Indonesia kembali jaya seperti jaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.Hatur nuhun kang herdi artikelnya.

  7. Hendra Manto says:

    Tetapkan sasaran, tetapkan setinggi mungkin, jangan pernah takut lihat gelombang, maju terus, mari berkorban****************** rushhhhhhhhhhhhhh

Leave a Reply